Menko Airlangga : Ingatkan Pentingnya Vaccine Nationalism Dalam Negeri, Cegah Biopolitik Vaksin

Sabtu, 31 Juli 2021 - 12:36:40 WIB

JAKARTA –Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan pentingnya vaccine nationalism, sehingga Indonesia memiliki kemampuan membuat vaksin sendiri sebagai kebutuhan untuk dalam negeri.

Airlangga mengatakan Pemerintah juga sangat berharap bahwa vaksin yang diinisiasi oleh Universitas Airlangga (Unair) dan Lembaga Eijkman, bisa dipercepat sehingga tahun depan Indonesia tidak lagi tergantung pada vaksin produksi luar negeri. 

“Yang sekarang terjadi adalah vaccine nationalism, dimana vaksin ini prioritas diberikan kepada negara masing-masing. Bahkan juga terjadi vaksin biopolitik. Misalnya untuk ke China, saat ini harus menggunakan vaksin China dan untuk ke Eropa harus menggunakan vaksin Eropa. Tangan kita mungkin harus disuntik lebih dari dua kali, tergantung mau pergi kemana,” tutur Airlangga. 

Pernyataan ini sampaikan Ketua KPCPEN tersebut dalam peluncuran Gerakan Aksi Bersama Serentak Tanggulangi (Gebrak) COVID-19. Acara yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Uniar) digelar secara virtual, Jumat (30/07).

Lewat vaccine nationalism, tentu diharapkan kebutuhan vaksin Indonesia akan terpenuhi oleh produksi dalam negeri. Bahkan warga Indonesia harus bangga terhadap vaksin dalam negeri. 

Airlangga pun mengapresiasi inisiatif Uniar yang telah masuk ke platform pengadaan Vaksin Merah Putih, bersama lembaga Eijkman. Diharapkan vaksin itu segera masuk tahap uji coba Makaka (pengujian ke hewan). 

Airlangga juga berharap adanya percepatan kerja sama dengan Biotis, yang akan masuk bulan Agustus prihal penelitian cara membuat obat yang baik oleh BPOM. 

“Jika ini dapat terakselerasi maka Indonesia punya double engine, tidak hanya berbasis BUMN, tapi juga kerja sama perguruan tinggi dengan pihak swasta,” ucap Airlangga.

Ini membuat produksi vaksin dalam negeri kelak akan mencukupi kebutuhan Indonesia. 

Dalam hal sertifikasi vaksin dari beberapa negara tersebut, Airlangga menilai malah menghalangi. Untuk itu pemerintah RI kini mendorong ke WHO bahwa vaksinasi ini tidak boleh dipolitikkan. Bahkan Indonesia sendiri sudah meminta agar vaksin ini menjadi public goods, yang bisa diproduksi oleh siapa saja. Selain itu, pemerintah Indonesia juga terus berusaha agar bisa memproduksi vaksin terutama dari riset di dalam negeri.

“Pemerintah berharap pada Eijkman dan Unair, dan beberapa perusahaan lain di dalam negeri untuk segera menciptakan vaksin dalam negeri,” ujar Airlangga. 

Airlangga Hartarto dalam kesempatan itu juga menerima rekomendasi dari Fakultas Kedokteran Unair  terkait penanganan pandemi COVID-19 di Tanah Air. Ketua KPCPEN ini mengapresiasi semua pihak yang terlibat dalam rekomendasi tersebut. 

Airlangga menyatakan jika Gebrak COVID-19, ini sangat diperlukan untuk mengingatkan kepada seluruh stakeholder bahwa penanganan COVID ini harus ditekan, diselenggarakan, dirasakan dan sangat berpengaruh terhadap masyarakat. 

Airlangga juga menegaskan terdapat beberapa hal yang harus dilakukan untuk menekan penularan, memotong mata rantai COVID-19 dan percepatan vaksinasi. Untuk program vaksinasi, Airlangga menggarisbawahi jika vaksinasi saat ini sudah mencapai sekitar 67 juta dosis (dosis pertama 47 juta dan dosis kedua 20 juta dosis).

Pemerintah sendiri sudah melibatkan berbagai pihak, baik dokter, perawat, bidang hingga TNI/Polri terlibat dalam program ini.

Pada Juli ini target pemerintah sendiri adalah 30 juta dosis vaksin sehingga membuat adanya supply and  demand yang  tidak balance. Namun di bulan Agustus dengan adanya stok yang bertambah Airlangga berharap bisa segera diatasi permintaan vaksin di Jawa dan luar Jawa. 

“Seusai instruksi dari Bapak Presiden, maka vaksinasi ini akan ditingkatkan dari 1 juta menjadi 2 juta, kalau ingin mencapai herd imunity sebesar 70 persen dari target vaksinasi pada akhir tahun ini,” kata Airlangga. 

Menurut Ketua Umum Partai Golkar ini, beberapa negara yang sudah mencapai herd immunity sebanyak 60 persen, seperti Amerika Serikat dan Inggris, kini sudah menangani COVID dengan cara yang berbeda. "Mereka tengah menyeimbangkan dari arah pandemi transisi ke arah endemi,” ujar Airlangga.(*)




loading...

BERITA BERIKUTNYA