10 Menit yang Tak Terlupakan

Lebih Dekat dengan Melisa, Peraih Emas PON dari Wushu (3)

Kamis, 14 Oktober 2021 - 08:47:56 WIB

 

Tak pernah terbayang di benak Melisa Try Andani, bisa meraih emas pada PON XX Papua dalam cabor wushu. Wanita berusia 28 tahun ini harus menjalani perjuangan keras, untuk sampai ke titik ini. Seperti apa ceritanya?

 

Rumah yang terletak di Perumahan Bumi Paal Merah Indah, Kelurahan Lingkar Selatan, Kecamatan Paalmerah, Nampak asri. Dengan dinding warna hijau toska, berpagar hitam, rumah ini tampak lebih sejuk ditambah koleksi tanaman yang sangat terawat.

Ini kesan pertama saat Jambi Independent tiba di rumah Melisa, Selasa (12/10) lalu sekitar pukul 11.00. Sang ayah rupanya sedang duduk santai, saat kami tiba di sana.

Setelah memperkenalkan diri, pria ramah itu pun langsung mempersilakan masuk. “Masuk. Ini dipanggil adek atau nak,” sapanya, ramah. Tim lalu duduk di ruang tamu berukuran sekitar 3x3 meter. Suasananya nyaman. Banyak piala dipajang, di atas lemari.

Di sini lah Melisa mengawali ceritanya, hingga meraih emas. Pembawaannya ramah. Ceria dan hangat. Dunia bela diri memang bukan hal baru bagi perempuan dengan rambut sebahu itu.

Saat duduk di bangku kelas 3 SD, Melisa kecil sudah menekuni karate. “Awalnya tidak diizinin sama ortu. Takut kalau saya patah tulang,” kenangnya. Tapi bukan Melisa namanya, kalau langsung patah arang.

Dia tetap latihan. Walau harus curi-curi waktu. Sampai akhirnya kegiatan ini berlanjut. Dia bahkan sempat mengikuti Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP). Saat itu, dia menerima penghasilan.

Dari situ, orang tuanya setuju karena Melisa bisa menunjukkan eksistensinya terhadap olahraga yang ditekuninya itu. “Saya bertekad untuk membuktikan kalau bisa,” katanya.

Dari karate, wanita yang akrab disapa Imel ini pun beralih ke wushu. Rupanya bela diri ini juga cocok untuk anak ketiga ini. Tahun 2015, dia bahkan meraih juara pertama pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) di Muarabulian, Kabupaten Batanghari.

Imel juga pernah ikut Pra Pon di Bandung, lewat cabor wushu, pada 2015. Di sana, dia meraih perak, sekaligus merebut tiket untuk PON di Bandung pada 2016. Di even ini, dia meraih perunggu.

Sejumlah kejuaraan pun lalu diikutinya. Mulai dari kejuaraan nasional. Dia pun pernah mengikuti pelatihan di China, pada 2016. Kegigihan Imel terus berlanjut. Sebenarnya, saat akan berlaga pada PON XX Papua, kondisi Imel tak sempurna.

Sebelumnya dia mengalami cidera di kaki kanannya. Rupanya, hal ini sudah diketahui lawannya. “Banyak yang mengincar kaki saya, tapi saya berusaha bertahan,” kenangnya.

Apalagi saat di final. Selain menahan sakit, beban mental juga harus ditanggungnya selama bertanding. Betapa tidak, Imel harus bertanding jauh dari kampung halamannya. Ditambah lagi, Presiden RI Joko Widodo menyaksikan laga dia melawan DKI di final.

“Pendukung atlet lain di sana banyak sekali,” kata dia. Selain itu, Imel juga tak berani mengecewakan kedua orang tua, teman-teman dan warga Provinsi Jambi. Satu hal saja yang ditanamnya dalam-dalam di hati. Seluruh warga Jambi sedang menanti kabar baik darinya.

10 menit pertandingan itu, memang tak lama. Tak sebanding dengan latihannya selama ini. Tapi rupanya, itu merupakan 10 menit paling berharga dalam hidupnya. Dia menang 2-0 atas DKI. Emas di tangan. Dapat dua jempol dari Joko Widodo. Siapa yang tak senang kalau sudah begitu. “Pengalaman yang tak terbayar,” kata wanita yang murah senyum ini, dengan gaya tangannya yang khas saat bercerita. (bersambung)

 




loading...

BERITA BERIKUTNYA